Berita Kasus Bayi Season 5 | RBC Sinergi Foundation
Oleh: Mikael Niman / YUD | Senin, 12 Juni 2017 | 19:14 WIB
Bekasi - Pasien bernama Reny Wahyuni (40), yang ditolak tujuh rumah sakit di Kota Bekasi, akhirnya melahirkan dengan kondisi anaknya telah meninggal dunia. Reny melahirkan putrinya usai menjalani operasi caesar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Koja, Jakarta Timur, Minggu (11/6) pagi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi akan melakukan investigasi dengan membentuk tim independen untuk menindaklanjuti kasus penolakan pasien ini.
"Kami akan mengevaluasi jajaran direksi RSUD Kota Bekasi dan izin operasional rumah sakit swasta yang sempat menolak pasien BPJS Kesehatan," kata Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, Senin (12/6).
Ketujuh rumah sakit yang menolak pasien Reny Wahyuni, di antaranya RSUD Kota Bekasi dan enam RS swasta yakni RS Ananda Bekasi, RS Anna Medika Bekasi, RS Mekar Sari, RS Bakti Kartini, RS Bella, dan RS Hermina tetap menolaknya.
"Dia kan pasien BPJS Kesehatan, jangankan pakai kartu aslinya, ditunjukkan fotokopinya saja tetap harus dilayani rumah sakit," ungkapnya dengan kecewa.
Dia mengatakan, pihaknya akan membentuk tim investigasi untuk mengecek alasan penolakan pasien BPJS di RSUD Kota Bekasi.
Nantinya, hasil investigasi bisa dijadikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk melakukan tindakan berikutnya. Pemerintah daerah juga tak segan-segan memberikan sanksi terberat yakni pencopotan jabatan direksi RSUD Kota Bekasi
"Apabila ruang ICU RSUD Kota Bekasi penuh seharusnya menggunakan bangsal 202 milik rumah sakit," ujarnya.
Rahmat menduga, lambatnya penanganan tim medis di RSUD Kota Bekasi berakibat fatal terhadap pasien Reny Wahyuni.
"Semestinya, petugas RSUD Kota Bekasi bergerak cepat. Entah diantar ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) atau ke RS Pusat Persahabatan, dengan segera," imbuhnya.
Saat ini pasien yang tinggal di Perum Pejuang Pratama Blok L20 RT 03/RW 06, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi, telah dibuatkan Kartu Sehat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) milik Kota Bekasi. Dengan demikian, tak ada alasan lagi, tidak terlayani di rumah sakit swasta Kota Bekasi. Sudah ada, 37 rumah sakit swasta di Kota Bekasi termasuk RSUD Kota Bekasi, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menerima Kartu Sehat berbasis NIK ini.
Pemerintah menyediakan dana sekitar Rp 100 miliar di tahun 2017 untuk melindungi pasien Kartu Sehat berbasis NIK.
Pemegang Kartu Sehat berbasis NIK adalah warga Kota Bekasi yang memiliki penghasilan di bawah Upah Minimum Kota (UMK) sebesar Rp 3,6 juta.
Kemudian, Hari Kustanto mencari rumah sakit untuk merawat istrinya. Setelah tiga hari mencari rumah sakit, Reny belum dirawat dengan alasan ruang Intensive Care Unit (ICU) penuh. Padahal mereka telah terlindungi Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Bahkan, saat mendatangi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi. "Tiga hari saya berkeliling cari rumah sakit, tapi ditolak semua dengan alasan ruang ICU sudah penuh," tutur Hari.
Barulah, di RSUD Koja, Jakarta Utara, Reny langsung menjalani operasi caesar. Hanya berselang beberapa menit pasca operasi itu, bayi perempuan itu meninggal dunia karena nafas sang anak sangat lemah.
Putrinya yang baru lahir telah dimakamkan pada di TPU Makam Kembang, Mingggu (11/6) pagi.
#Repost News By Beritasatu.com
Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi akan melakukan investigasi dengan membentuk tim independen untuk menindaklanjuti kasus penolakan pasien ini.
"Kami akan mengevaluasi jajaran direksi RSUD Kota Bekasi dan izin operasional rumah sakit swasta yang sempat menolak pasien BPJS Kesehatan," kata Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, Senin (12/6).
Ketujuh rumah sakit yang menolak pasien Reny Wahyuni, di antaranya RSUD Kota Bekasi dan enam RS swasta yakni RS Ananda Bekasi, RS Anna Medika Bekasi, RS Mekar Sari, RS Bakti Kartini, RS Bella, dan RS Hermina tetap menolaknya.
"Dia kan pasien BPJS Kesehatan, jangankan pakai kartu aslinya, ditunjukkan fotokopinya saja tetap harus dilayani rumah sakit," ungkapnya dengan kecewa.
Dia mengatakan, pihaknya akan membentuk tim investigasi untuk mengecek alasan penolakan pasien BPJS di RSUD Kota Bekasi.
Nantinya, hasil investigasi bisa dijadikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk melakukan tindakan berikutnya. Pemerintah daerah juga tak segan-segan memberikan sanksi terberat yakni pencopotan jabatan direksi RSUD Kota Bekasi
"Apabila ruang ICU RSUD Kota Bekasi penuh seharusnya menggunakan bangsal 202 milik rumah sakit," ujarnya.
Rahmat menduga, lambatnya penanganan tim medis di RSUD Kota Bekasi berakibat fatal terhadap pasien Reny Wahyuni.
"Semestinya, petugas RSUD Kota Bekasi bergerak cepat. Entah diantar ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) atau ke RS Pusat Persahabatan, dengan segera," imbuhnya.
Saat ini pasien yang tinggal di Perum Pejuang Pratama Blok L20 RT 03/RW 06, Kelurahan Pejuang, Kecamatan Medansatria, Kota Bekasi, telah dibuatkan Kartu Sehat berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) milik Kota Bekasi. Dengan demikian, tak ada alasan lagi, tidak terlayani di rumah sakit swasta Kota Bekasi. Sudah ada, 37 rumah sakit swasta di Kota Bekasi termasuk RSUD Kota Bekasi, yang bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menerima Kartu Sehat berbasis NIK ini.
Pemerintah menyediakan dana sekitar Rp 100 miliar di tahun 2017 untuk melindungi pasien Kartu Sehat berbasis NIK.
Pemegang Kartu Sehat berbasis NIK adalah warga Kota Bekasi yang memiliki penghasilan di bawah Upah Minimum Kota (UMK) sebesar Rp 3,6 juta.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan keterangan yang dihimpun suami Reny Wahyuni, Hari Kustanto (41), saat itu kondisi mengalami gangguan kehamilan. Usia bayinya sudah lebih dari delapan bulan dan segera mendapat perawatan tim medis.Kemudian, Hari Kustanto mencari rumah sakit untuk merawat istrinya. Setelah tiga hari mencari rumah sakit, Reny belum dirawat dengan alasan ruang Intensive Care Unit (ICU) penuh. Padahal mereka telah terlindungi Badan Penyelanggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Bahkan, saat mendatangi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi. "Tiga hari saya berkeliling cari rumah sakit, tapi ditolak semua dengan alasan ruang ICU sudah penuh," tutur Hari.
Barulah, di RSUD Koja, Jakarta Utara, Reny langsung menjalani operasi caesar. Hanya berselang beberapa menit pasca operasi itu, bayi perempuan itu meninggal dunia karena nafas sang anak sangat lemah.
Putrinya yang baru lahir telah dimakamkan pada di TPU Makam Kembang, Mingggu (11/6) pagi.
#Repost News By Beritasatu.com
Masih bersangkutan
dengan berita diatas . saat ini masih sedikit yang mengetahui program yang
sangat cocok dengan artikel diatas . yaa , program ini berasal dari suatu
lembaga bernama SinergiFoundation . Dan Sinergi Foundation ini memiliki program
yang bernama Rumah Bersalin Cuma-Cuma , yang dimana program ini akan
sangat-sangat membantu baik itu dari sebelum melahirkan , saat melahirkan , dan
perawatan setelah melahirkan untuk orang yang membutuhkan bantuan dalam proses
persalinan . Karena disini pasien tidak akan diberatkan dengan biaya persalinan
ataupun perawatan tsb . selain itu , disini kami akan memberikan pelayanan
terbaik kami dimana kami tidak membeda-bedakan pasien satu dengan yang lainnya
. Dan akan kami berikan pelayanan terbaik kami .
Jadi , untuk kalian
yang mungkin melihat / memiliki tetangga ataupun saudara yang sedang kesulitan
dalam pembayaran persalinan . kalian bisa langsung bantu saja mereka untuk
Memberi tahu tentang program kami ini dan insyaallah dengan ketentuan yang
sudah kami tentukan disini . kami pasti akan langsung membantu sodara /
tetangga kalian yang membutuhkan .
Dalam program Rumah
Bersalin cuma-cuma ini kalian juga bisa ikutan berdonasi yang dalam tujuan
ikhtiar membantu dalam meringankan beban saudara kita sesama muslim . Dan dalam
program donasi disini kami memiliki beberapa paket donasi :
- Paket Ibu :
Rp.1000.000 : Donasi Ibu ini meliputi ANC , Periksa Kehamilan , Sejak
daftar s.d Usia 9 Bulan Kehamilan , Senam Hamil , USG , Operasi Caesar ,
KB , dan Paket perawatan Pasca Persalinan .
- Paket Anak :
Rp.500.000 : Donasi Paket Anak Ini Meliputi persalinan , Photo Therapy ,
Imunisasi , dan Perawatan pasca persalinan .
- Paket Alat
Kesehatan : Rp.1000.000 : Donasi paket Alat Kesehatan Meliputi pengadaan ,
Alat-Alat kesehatan , Obat-Obatan dan Bahan Medis Habis pakai
lainnya
- Klinik Wakaf
Ibu dan Anak : Rp. 5.500.000 : Donasi wakaf ini meliputi Pembebasan Lahan
& Pembangunan Klinik ibu dan anak . # Donasi Wakaf Sudah Termasuk
Infaq 10% partisipasi biaya operasional & sosialisasi .
Atau untuk kalian yang masih penasaran bisa langsung saja datang
ke alamat Rumah Bersalin Cuma-Cuma yang akan kami cantumkan dibawah ini :
Jl . Holis No 488-A , Caringin , Bandung Kulon , Kota Bandung .
Jawa Barat 40212
( 022 6042152 )
Jl . Raya Soreang - Banjaran
( 022 6032281)
Call Center : 0851 0004 2009
SMS / Whatsapp : 081 321 200 100
Dan untuk kalian
juga yang berminat untuk berdonasi dalam program rumah bersalin cuma-cuma ini
dalam ikhtiar membantu meringankan beban sesama saudara muslim kita bisa
langsung saja disalurkan melalui nomor rekening yang akan kami cantumkan
dibawah ini :
BCA : 008.305.3442
BJB :
0001.487.035.100
BJB Syariah :
001.01010.02989
Bank Mandiri : 130.000.4040.450
Bank Mandiri Syariah :
700.098.2158
Bank Muamalat
Indonesia : 103.000.5424


Komentar
Posting Komentar