News Rohignya Season 17 | Sinergi Foundation
Bertemu sepupu
Remaja putri berusia 16 ini, bersama saudara-saudaranya, bergerak dalam satu kelompok dan setelah melewati kawasan perbukitan maupun rawa-rawa mereka kemudian menumpang perahu bersama warga lain.
Tujuan mereka, Teknaf di Distrik Cox's Bazar, kabupaten di Bangladesh yang letaknya hanya dipisahkan oleh Sungai Naf dari Rakhine, tempat kelompok minoritas Rohingya tinggal di Myanmar.
BBC INDONESIA
Dalam perjalanan menyeberang perbatasan negara lain tanpa dokumen atau identitas apapun, Yas merasa beruntung tidak tertangkap oleh penjaga perbatasan.
Dia lantas dibawa ke kamp pengungsi Kutupalong, Distrik Coz's Bazar. Di sanalah dia bertemu dengan Umi, saudara terdekatnya di pengungsian.
"Saya menemukan Yas dalam keadaan menangis di kamp Kutapalong. Saya kenalkan ia dan saudara-saudaranya kepada suami dan suami mencarikan kerja buat mereka. Saya peluk Yas dan saat itu ia sedang sakit. Saya ajak ia ke barak. Kami berdua menangis," tutur Umi.
Hingga kini, Yas masih berada di bawah pantauan Badan Anak-anak PBB (UNICEF), yang bekerja sama dengan pekerja sosial di kamp pengungsian.
BBC INDONESIA
Yas tercatat sebagai salah satu dari 169 anak yang terpisah dari orang tua atau datang tanpa wali resmi ke Bangladesh sejak kerusuhan terbaru pecah di Rakhine, Myanmar, Oktober 2016. Kecuali Yas, anak-anak yang terpisah atau kehilangan orang tua pada umumnya berusia di bawah 10 tahun.
Sejauh ini 15 orang di antara mereka sudah dipertemukan dengan orang tua atau keluarga terdekat mereka.
Oleh karena itu, harapan tetap ada meskipun perlu waktu.
"Anak-anak yang datang mengalami trauma. Para pekerja sosial perlu waktu mengorek keterangan dari anak-anak untuk mengingat desa asal mereka dan kemudian mendokumentasikannya. Ini juga melibatkan proses multilembaga," kata Pejabat Perlindungan Anak UNICEF, Shaila Parveen Luna.
"Kami bekerja sama dengan Pencatatan Sipil Bangladesh, badan-badan lain di PBB dan organisasi internasional lain untuk bersama-sama memberikan dukungan kepada anak-anak ini," tambahnya.
Sementara proses pelacakan dilakukan, anak-anak lain yang terpisah dari orang tua atau bahkan kehilangan orang tua, rutin mengikuti kegiatan di pusat belajar kamp Kutupalong.
Pusat belajar terbuat dari didinding bambu dengan atap terpal, yang mengalami bocor di banyak bagian setelah diterjang topan Mora. ***
Sumber : BBC NEWS
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Apakah kalian tau
? kalai sampai kini masih terus berulang, kejahatan kemanusiaan
terhadape etnis muslim Rohingya. Dilansir dari Republika, lebih dari 2.600
rumah dibakar di wilayah yang dihuni oleh mayoritas Muslim Rohingya di Barat
laut Myanmar pada pekan lalu.
.
Menurut badan
pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNHCR, sekitar 58.600 warga
Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di Myanmar ke
Bangladesh.
.
Kami mengajak seluruh
insan peduli masyarakat Indonesia untuk berdoa, bersimpati membantu meringankan
beban saudara kita di Myanmar melalui :
.
Mandiri Syariah 700
546 3108
Atas nama Yayasan
Semai Sinergi Umat/ Sinergi Foundation
.
Untuk Informasi lebih
detail bisa langsung saja klik disini
.
Majelis
Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar.
Bagaimanapun, hal itu tidak sesuai konstitusi. Wakil Ketua Umum MUI Zainut
Tauhid menyatakan, MUI mengukut aksi pembantaian etnis Rohingya.
Cara itu tidak beradab dan bertentangan
dengan konstitusi Indonesia yang menjunjung kemerdekaan sebagai hak segala
bangsa dan harus dihapuskan dari dunia. Ini adalah penjajahan dan penindasan
satu kelompok terhadap yang lain.
"MUI mengutuk upaya yang mengarah
pada penghapusan etnis ini. MUI dorong DK PBB dan organisasi Islam dunia untuk
caru solusi yang bermartabat,'' ungkap Zainut di Kantor MUI, Selasa (22/11).
Bangsa Indonesia bisa mengambil hikmah
dari sana. Indonesia punya tingkat toleransi tinggi terhadap aneka suku dan
agama atau sesama bangsa. ''Kita sadari Indonesia mayor Muslim tapi jarang
terjadi konflik seperti di Rohingya. Karena umat Islam di Indonesia sadar,
perbedaan adalah sunatullah. Islam juga mengajarkan penghormatan dan toleransi
kepada agama lain,'' kata Zainut.
Tentara Myanmar diduga melakukan
pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan kepada penduduk Rakhine. Kelompok-kelompok
HAM pun meminta inversigasi secara independen dilakukan di daerah yang
merupakan rumah bagi Muslim Rohingya tersebut.
Cerita pelecehan seksual dan pembakaran
desa, sudah menjadi pembicaraan hangat di media sosial, tapi sulit melakukan
verifikasi dengan pembatasan akses tentara.
sumber : republika.co.id


Komentar
Posting Komentar