News Rohingya Season 14 | Sinergi Foundation

'Dua versi nama mirip Orba'

Empat gurunya adalah orang Rohingya, kepala sekolahnya orang Rakhine tetapi hanya datang ke sekolah pada acara-acara khusus. Mereka digaji oleh pemerintah negara bagian Rakhine.
"Mereka semua siswa Rohingya, tidak ada siswa dari komunitas Rakhine. Ada kampung di dekat sini yang dihuni oleh orang-orang Rakhine, tapi siswa yang kami didik adalah anak-anak Rohingya. Tidak ada siswa etnik Rakhine," jelas M. Amin.
M. AminHak atas fotoAP
Image captionM. Amin mengajar tiga kelas dalam satu hari dan menerima gaji dari pemerintah negara bagian Rakhine.
Seperti orang-orang Rohingya pada umumnya di Myanmar, ia punya dua nama: M Amin nama Rohingya dan Maung Chit Khin, nama Myanmar. Kondisi ini sama dengan zaman Orde Baru di Indonesia ketika warga negara dari keturunan Cina lazimnya mengadopsi nama setempat.
Sekolah Indonesia di Hla Ma ChayHak atas fotoBBC INDONESIA
Image captionAnak-anak Rohingya bersekolah ke SD bantuan Indonesia dengan membawa peralatan berlogo bendera Merah Putih.
Saya juga tanyakan kenapa tidak ada siswa dari etnik lain di sekolahnya padahal di dekat lingkungan sekolah itu ada desa yang dihuni komunitas lain.
"Kenapa? Saya tidak tahu. Kami mengajar anak-anak Rohingya. Anak-anak dari etnik Rakhine belajar di sekolah-sekolah lain. Sebelum kerusuhan, di sekolah yang lama sebelum dibangun gedung baru ini, gurunya adalah orang Rakhine.
"Tetapi setelah kekerasan terjadi, para guru tidak datang lagi untuk mengajar anak-anak Rohingya ini. Saya tidak tahu kenapa mereka tidak mengajar siswa Rohingya lagi, tetapi saya pikir mereka membenci orang-orang Muslim Rohingya."
Hak atas fotImage ca
Seorang pengamat mengatakan ada jalan ke luar atas sentimen negatif terhadap kelompok Rohingya -yang oleh Myanmar tidak dianggap sebagai warga negara tetapi sebagai pendatang dari Bangladesh sehingga dipanggil 'orang-orang Bengali atau orang-orang Muslim'.
Cendekiawan asal Rakhine, Aung Myo Oo, berpendapat diperlukan niat baik dari kelompok-kelompok yang bertentangan di masyarakat untuk mengatasinya.
"Di tataran lapangan, kita harus mengukur tingkat toleransi baik dari kelompok Rakhine maupun komunitas lain dan melihat hal yang menjadi kesamaan untuk hidup berdampingan. Pada akhirnya mereka hidup di atas tanah yang sama meskipun permukimannya terpisah-pisah. Mereka minum air dari sumber yang sama," jelasnya kepada BBC Indonesia.
Sumber : BBC NEWS 

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Apakah kalian tau ?  kalai sampai kini masih terus berulang, kejahatan kemanusiaan terhadape etnis muslim Rohingya. Dilansir dari Republika, lebih dari 2.600 rumah dibakar di wilayah yang dihuni oleh mayoritas Muslim Rohingya di Barat laut Myanmar pada pekan lalu.
.
Menurut badan pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNHCR, sekitar 58.600 warga Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di Myanmar ke Bangladesh.
.
Kami mengajak seluruh insan peduli masyarakat Indonesia untuk berdoa, bersimpati membantu meringankan beban saudara kita di Myanmar melalui :
.
Mandiri Syariah 700 546 3108
Atas nama Yayasan Semai Sinergi Umat/ Sinergi Foundation
.
Untuk Informasi lebih detail bisa langsung saja klik disini  
.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar. Bagaimanapun, hal itu tidak sesuai konstitusi. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menyatakan, MUI mengukut aksi pembantaian etnis Rohingya.
Cara itu tidak beradab dan bertentangan dengan konstitusi Indonesia yang menjunjung kemerdekaan sebagai hak segala bangsa dan harus dihapuskan dari dunia. Ini adalah penjajahan dan penindasan satu kelompok terhadap yang lain. 
"MUI mengutuk upaya yang mengarah pada penghapusan etnis ini. MUI dorong DK PBB dan organisasi Islam dunia untuk caru solusi yang bermartabat,'' ungkap Zainut di Kantor MUI, Selasa (22/11).
Bangsa Indonesia bisa mengambil hikmah dari sana. Indonesia punya tingkat toleransi tinggi terhadap aneka suku dan agama atau sesama bangsa. ''Kita sadari Indonesia mayor Muslim tapi jarang terjadi konflik seperti di Rohingya. Karena umat Islam di Indonesia sadar, perbedaan adalah sunatullah. Islam juga mengajarkan penghormatan dan toleransi kepada agama lain,'' kata Zainut.
Tentara Myanmar diduga melakukan pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan kepada penduduk Rakhine. Kelompok-kelompok HAM pun meminta inversigasi secara independen dilakukan di daerah yang merupakan rumah bagi Muslim Rohingya tersebut.
Cerita pelecehan seksual dan pembakaran desa, sudah menjadi pembicaraan hangat di media sosial, tapi sulit melakukan verifikasi dengan pembatasan akses tentara.
sumber : republika.co.id


Komentar

Postingan Populer