News Rohingya Season 19 | Sinergi Foundation

Ratusan Buruh Muslim Unjuk Rasa Rohingya di Kedubes Myanmar

Red: Bilal Ramadhan




REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ratusan buruh yang tergabung dalam Gerakan Pekerja Muslim Indonesia (GPMI) akan melakukan aksi solidaritas kemanusiaan di Kedutaan Besar Myanmar, Rabu (6/9). Aksi solidaritas untuk kemanusiaan ini akan dimulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, berdasarkan keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (6/9).
Dalam aksinya, GPMI menyampaikan 7 Resolusi buruh Indonesia kepada pemerintah Myanmar dan juga Pemerintah Indonesia. Presidium GPMI Mirah Sumirat mengatakan, ketujuh resolusi buruh Indonesia tersebut adalah pertama, mengutuk dengan keras pembantaian etnis Rohingnya oleh pemerintah dan militer Myanmar.
"Kedua, stop pembantaian, diskriminasi dan upaya kekerasan penyelesaian masalah Rohingnya dalam segala bentuknya. Ketiga, pengakuan etnis Rohingnya sebagai bagian dari Warga Negara Myanmar," kata dia.
Keempat, lanjutnya, tindak tegas dan proses secara hukum bagi penjahat kemanusiaan dalam tragedi Rohingnya. Kelima, kembalikan para manusia perahu dan pencari suaka yang terdampar di berbagai negara dan dijamin kehidupannya tidak ada diskriminasi dan intimidasi di Rakhine.
"Keenam, pemerintah Myanmar herus dan segera membuka akses seluas-luasnya untuk masuknya bantuan kemanusiaan berupa medis, obat-obatan, sandang pangan, air bersih, bantuan pendidikan dari pihak luar," ujar dia.
Ketujuh, memastikan Pembangunan ekonomi, pendidikan , kesehatan dan lapangan kerja serta kesejahteraan yang merata di Myanmar tanpa diskriminasi. Kepada Pemerintah Indonesia, lanjut dia, GPMI meminta peran aktif pemerintah Indonesia agar kejahatan kemanusiaan yang telah terbunuh ratusan dan bahkan ribuan orang terbunuh dalam tahun tahun terakhir bisa dihentikan.
"Rasa kemanusiaan Kaum buruh terpanggil melihat penderitaan yang dialami oleh saudara saudara kita di Rohingnya. Atas nama Keadilan, Buruh juga meminta PBB untuk segera menangkap para penjahat kemanusiaan yang telah membunuh dan membiarkan pembantain etnis Rohingnya terjadi," lanjut Mirah.
Dalam kesempatan ini, Herry Hermawan yang juga merupakan Presidium GPMI menegaskan, bahwa buruh Indonesia meminta Presiden Jokowi turun langsung dan bersikap tegas dengan terlibat aktif dalam penyelesaian permasalahan di Myanmar tersebut.
Sumber : www.republica.co.id
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Apakah kalian tau ?  kalai sampai kini masih terus berulang, kejahatan kemanusiaan terhadape etnis muslim Rohingya. Dilansir dari Republika, lebih dari 2.600 rumah dibakar di wilayah yang dihuni oleh mayoritas Muslim Rohingya di Barat laut Myanmar pada pekan lalu.
.
Menurut badan pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNHCR, sekitar 58.600 warga Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di Myanmar ke Bangladesh.
.
Kami mengajak seluruh insan peduli masyarakat Indonesia untuk berdoa, bersimpati membantu meringankan beban saudara kita di Myanmar melalui :
.
Mandiri Syariah 700 546 3108
Atas nama Yayasan Semai Sinergi Umat/ Sinergi Foundation
.
Untuk Informasi lebih detail bisa langsung saja klik disini  
.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar. Bagaimanapun, hal itu tidak sesuai konstitusi. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menyatakan, MUI mengukut aksi pembantaian etnis Rohingya.
Cara itu tidak beradab dan bertentangan dengan konstitusi Indonesia yang menjunjung kemerdekaan sebagai hak segala bangsa dan harus dihapuskan dari dunia. Ini adalah penjajahan dan penindasan satu kelompok terhadap yang lain. 
"MUI mengutuk upaya yang mengarah pada penghapusan etnis ini. MUI dorong DK PBB dan organisasi Islam dunia untuk caru solusi yang bermartabat,'' ungkap Zainut di Kantor MUI, Selasa (22/11).
Bangsa Indonesia bisa mengambil hikmah dari sana. Indonesia punya tingkat toleransi tinggi terhadap aneka suku dan agama atau sesama bangsa. ''Kita sadari Indonesia mayor Muslim tapi jarang terjadi konflik seperti di Rohingya. Karena umat Islam di Indonesia sadar, perbedaan adalah sunatullah. Islam juga mengajarkan penghormatan dan toleransi kepada agama lain,'' kata Zainut.
Tentara Myanmar diduga melakukan pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan kepada penduduk Rakhine. Kelompok-kelompok HAM pun meminta inversigasi secara independen dilakukan di daerah yang merupakan rumah bagi Muslim Rohingya tersebut.
Cerita pelecehan seksual dan pembakaran desa, sudah menjadi pembicaraan hangat di media sosial, tapi sulit melakukan verifikasi dengan pembatasan akses tentara.
sumber : republika.co.id



Komentar

Postingan Populer