News Rohingya Season 20 | Sinergi Foundation
Pengungsi Makin Membeludak, Bangladesh Akan Bangun Kamp Terbesar di Dunia untuk Muslim Rohingya
Putri Ainur Islam, Jurnalis · Kamis 05 Oktober 2017, 20:45 WIB

COX'S BAZAR - Bangladesh akan memperluas sebuah kamp penampungan di distrik paling selatan untuk menampung 900.000 Muslim Rohingya. Selain itu, diketahui bahwa kamp tersebut nantinya menjadi kamp terbesar di dunia.
Sebelumnya, seluas dua ribu hektare tanah di distrik Cox's Bazar disisihkan pada September untuk kamp baru yang dapat menampung 400.000 warga Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar sejak akhir Agustus
Namun, kamp tersebut semakin lama semakin sempit karena jumlah pengungsi melebihi setengah juta, memberi tekanan pada kamp-kamp di sepanjang perbatasan yang telah menampung ratusan ribu orang Rohingya.
Mofazzal Hossain Chowdhury Maya, menteri penanganan bencana, mengatakan bahwa diperkirakan 8 ribu hingga 9 ribu pengungsi akan dipindahkan ke kamp baru di pinggiran Kutupalong, permukiman Rohingya terbesar di daerah tersebut.
"Mereka yang tinggal di tempat-tempat yang tersebar akan dibawa ke satu tempat, jadi lebih banyak lahan yang dibutuhkan. Pelan-pelan semuanya akan dilakukan," ungkapnya, dilansir dari Daily Mail, Kamis (5/10/2017).
Nantinya, kamp tersebut diperluas menjadi 1.000 hektare untuk mengakomodasi orang-orang Rohingya lebih banyak lagi. Dia juga mengatakan bahwa semua pengungsi yang tinggal di 23 kamp di sepanjang perbatasan akan dipindahkan ke lokasi tersebut dan permukiman yang ada ditutup. Sejauh ini sudah dua kamp penampungan yang sudah ditutup.
Sekadar informasi, kalangan dokter dan badan amal setempat khawatir penyakit seperti kolera dapat menyebar dengan cepat akibat kamp yang padat dan sanitasi yang buruk. Oleh karena itu, kekhawatiran tersebut menjadi pemicu untuk meluaskan area pengungsian.
Selain itu, banyak badan amal yang berjuang untuk menyumbang makanan dan melindungi lebih dari setengah juta pengungsi yang telah membanjiri kamp-kamp tersebut, di mana kasus diare meningkat dua kali lipat dalam seminggu.
Mark Lowcock, sekretaris jenderal PBB untuk urusan kemanusiaan, mengatakan badan dunia tersebut akan mencari dana sekira USD430 juta demi meningkatkan operasi bantuan untuk Rohingya.
Sumber : News OkeZone.com
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Apakah kalian tau
? kalai sampai kini masih terus berulang, kejahatan kemanusiaan
terhadape etnis muslim Rohingya. Dilansir dari Republika, lebih dari 2.600
rumah dibakar di wilayah yang dihuni oleh mayoritas Muslim Rohingya di Barat
laut Myanmar pada pekan lalu.
.
Menurut badan
pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNHCR, sekitar 58.600 warga
Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di Myanmar ke
Bangladesh.
.
Kami mengajak seluruh
insan peduli masyarakat Indonesia untuk berdoa, bersimpati membantu meringankan
beban saudara kita di Myanmar melalui :
.
Mandiri Syariah 700
546 3108
Atas nama Yayasan
Semai Sinergi Umat/ Sinergi Foundation
.
Untuk Informasi lebih
detail bisa langsung saja klik disini
.
Majelis
Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar.
Bagaimanapun, hal itu tidak sesuai konstitusi. Wakil Ketua Umum MUI Zainut
Tauhid menyatakan, MUI mengukut aksi pembantaian etnis Rohingya.
Cara itu tidak beradab dan bertentangan
dengan konstitusi Indonesia yang menjunjung kemerdekaan sebagai hak segala
bangsa dan harus dihapuskan dari dunia. Ini adalah penjajahan dan penindasan
satu kelompok terhadap yang lain.
"MUI mengutuk upaya yang mengarah
pada penghapusan etnis ini. MUI dorong DK PBB dan organisasi Islam dunia untuk
caru solusi yang bermartabat,'' ungkap Zainut di Kantor MUI, Selasa (22/11).
Bangsa Indonesia bisa mengambil hikmah
dari sana. Indonesia punya tingkat toleransi tinggi terhadap aneka suku dan
agama atau sesama bangsa. ''Kita sadari Indonesia mayor Muslim tapi jarang
terjadi konflik seperti di Rohingya. Karena umat Islam di Indonesia sadar,
perbedaan adalah sunatullah. Islam juga mengajarkan penghormatan dan toleransi
kepada agama lain,'' kata Zainut.
Tentara Myanmar diduga melakukan
pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan kepada penduduk Rakhine. Kelompok-kelompok
HAM pun meminta inversigasi secara independen dilakukan di daerah yang
merupakan rumah bagi Muslim Rohingya tersebut.
Cerita pelecehan seksual dan pembakaran
desa, sudah menjadi pembicaraan hangat di media sosial, tapi sulit melakukan
verifikasi dengan pembatasan akses tentara.
sumber : republika.co.id


Komentar
Posting Komentar