News Rohingya Season 21 | Sinergi Foundation
Pengungsi Rohingya di India: Manusia Mana yang Mau Kembali ke Tempat Mereka Akan Dibantai?
Putri Ainur Islam, Jurnalis · Kamis 05 Oktober 2017, 18:26 WIB
Pengungsi Rohingya. (Foto: Reuters)
NEW DELHI - Komunitas Rohingya yang sudah lama tinggal di India berharap saudara-saudara mereka yang baru saja kabur ke India tidak akan membuat mereka kembali ke Myanmar, tempat mereka sempat dibantai. Mereka mengklaim bahwa mereka adalah korban teror dan tidak mungkin mereka kembali.
UNHCR telah mendaftarkan hanya sekira 14 ribu orang Rohingya di India sementara sisanya tidak memiliki kartu pengungsi. Mereka yang tak miliki kartu pengungsi takut dideportasi kapan saja karena Menteri Dalam Negeri India Rajnath Singh mengatakan bahwa semua pengungsi Rohingya adalah imigran ilegal dan Pemerintah India akan mengambil langkah untuk mendeportasi mereka kembali ke Myanmar. Pemerintah India dalam pengajuan sebelumnya di pengadilan berpendapat bahwa kehadiran pengungsi Rohingya merupakan ancaman bagi keamanan internal India.
Sementara itu, Mahkamah Agung India memberi pemerintah serikat tersebut selama sepuluh hari untuk memastikan bahwa India dapat melindungi pengungsi Rohingya, terutama perempuan dan anak-anak. Pengadilan negara tersebut sedang mendengarkan sebuah petisi yang diajukan oleh anggota masyarakat sipil dan perwakilan Rohingya melawan pendeportasian mereka
"Kami tentu ingin kembali karena Myanmar adalah tanah air kami. Tapi manusia mana yang mau kembali ke tempat mereka akan dibantai? Saya tidak berpikir ada orang India yang adalah saudara kami menginginkannya. Kami percaya Pemerintah India akan melindungi kami," ujar salah satu pengungsi Rohingya Sirajullah yang tinggal di sebuah kamp di pinggiran kota New Delhi, dikutip dari Sputnik, Kamis (5/10/2017).
Sirajullah melarikan diri ke India pada 2012. Sejak saat itu, dia tinggal di Delhi bersama dengan anak perempuan dan istrinya. Dia tidak tahu apa-apa tentang keberadaan anggota keluarga lainnya, termasuk ibunya. Tidak seperti rekan-rekannya sesama pengungsi yang kebanyakan bekerja di pabrik. Ia adalah seorang sarjana dan menjadi guru untuk mencari nafkah. Dia juga memimpin sebuah klub olahraga dan melibatkan pemuda melalui sepakbola.
"Kami hanya berharap ada beberapa tempat untuk beberapa waktu di India sehingga bertahan dan kami mengharapkan setidaknya kemurahan hati dari negara besar seperti India," ungkapnya.
Sekadar informasi, lebih dari 500 ribu etnis Rohingya lari ke Bangladesh demi menghindari persekusi dan kekerasan yang membayangi Rakhine State semenjak akhir Agustus 2017. Namun terdapat indikasi bahwa ada sejumlah warga etnis Rohingya yang bertujuan untuk mengungsi di India.
Oleh sebab itu, Pemerintah India berusaha melakukan kebijakan untuk menekan gelombang pengungsi Rohingya. Para penjaga perbatasan India disebut mendapatkan perintah untuk menggunakan metode yang keras demi mencegah mereka masuk yang salah satunya menggunakan granat kejut serta semprotan merica.
Sumber : News Okezone.com
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Apakah kalian tau
? kalai sampai kini masih terus berulang, kejahatan kemanusiaan
terhadape etnis muslim Rohingya. Dilansir dari Republika, lebih dari 2.600
rumah dibakar di wilayah yang dihuni oleh mayoritas Muslim Rohingya di Barat
laut Myanmar pada pekan lalu.
.
Menurut badan
pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNHCR, sekitar 58.600 warga
Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di Myanmar ke
Bangladesh.
.
Kami mengajak seluruh
insan peduli masyarakat Indonesia untuk berdoa, bersimpati membantu meringankan
beban saudara kita di Myanmar melalui :
.
Mandiri Syariah 700
546 3108
Atas nama Yayasan
Semai Sinergi Umat/ Sinergi Foundation
.
Untuk Informasi lebih
detail bisa langsung saja klik disini
.
Majelis
Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar.
Bagaimanapun, hal itu tidak sesuai konstitusi. Wakil Ketua Umum MUI Zainut
Tauhid menyatakan, MUI mengukut aksi pembantaian etnis Rohingya.
Cara itu tidak beradab dan bertentangan
dengan konstitusi Indonesia yang menjunjung kemerdekaan sebagai hak segala
bangsa dan harus dihapuskan dari dunia. Ini adalah penjajahan dan penindasan
satu kelompok terhadap yang lain.
"MUI mengutuk upaya yang mengarah
pada penghapusan etnis ini. MUI dorong DK PBB dan organisasi Islam dunia untuk
caru solusi yang bermartabat,'' ungkap Zainut di Kantor MUI, Selasa (22/11).
Bangsa Indonesia bisa mengambil hikmah
dari sana. Indonesia punya tingkat toleransi tinggi terhadap aneka suku dan
agama atau sesama bangsa. ''Kita sadari Indonesia mayor Muslim tapi jarang
terjadi konflik seperti di Rohingya. Karena umat Islam di Indonesia sadar,
perbedaan adalah sunatullah. Islam juga mengajarkan penghormatan dan toleransi
kepada agama lain,'' kata Zainut.
Tentara Myanmar diduga melakukan
pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan kepada penduduk Rakhine. Kelompok-kelompok
HAM pun meminta inversigasi secara independen dilakukan di daerah yang
merupakan rumah bagi Muslim Rohingya tersebut.
Cerita pelecehan seksual dan pembakaran
desa, sudah menjadi pembicaraan hangat di media sosial, tapi sulit melakukan
verifikasi dengan pembatasan akses tentara.
sumber : republika.co.id


Komentar
Posting Komentar