News Rohingya Season 4 | Sinergi Foundation


bantuan rohingya di aceh  rohingya, bantuan untuk rohingya aceh, rohingya di aceh 2017, rohingya fakta , bantuan untuk rohingya di aceh rohingya saat ini, lembaga penyalur bantuan untuk rohingya,  rohingya terkini, bantuan untuk pengungsi rohingya
Apa yang dialami warga Rohingya?
Pemerintah Myanmar berkilah bahwa kaum Rohingya adalah imigran gelap dari Bangladesh. Pemerintah Burma mengingkari hak kewarganegaraan kaum Rohingya, walaupun banyak data menunjukkan bahwa mereka telah menetap di sana selama beberapa generasi.
Banyak yang tinggal di kamp penampungan sementara setelah dipaksa keluar dari desa mereka oleh gelombang kekerasan komunal yang menyapu Rakhine pada tahun 2012. Mereka tinggal di salah satu negara bagian termiskin di Myanmar, dan gerakan dan akses mereka terhadap pekerjaan sangat dibatasi.
Setelah serangan militan pada bulan Oktober 2016, militer melakukan operasi pembalasan yang keras, dan banyak warga Rohingya menuduh bahwa dalam operasi itu pasukan keamananmelakukan pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran desa dan penyiksaan. Data dari PBB dan IOM menunjukkan, lebih dari 100.000 orang telah melarikan diri ke Bangladesh.
Badan hak asasi manusia PBB, dalam sebuah laporannya mengatakan 'kekejian tak terperi' telah terjadi di sana. PBB sekarang melakukan suatu penyelidikan resmi, walaupun pihak militer menyangkal telah melakukan tindakan-tindakan yang dituduhkan.
Pada hari Selasa lalu, kepala hak asasi manusia PBB Zeid Ra'ad Al Hussein menyebut kekerasan terbaru itu sangat menyedihkan padahal, katanya, hal itu dapat diperkirakan sebelumnya dan dicegah.
"Beberapa dasawarsa pelanggaran hak asasi manusia yang terus-menerus dan sistematis, termasuk tindakan aparat keamanan yang sangat keras terhadap berbagai serangan sejak Oktober 2016, hampir pasti merupakan salah satu penyebab terpupuknya ekstremisme kekerasan, dan akhirnya semua pihak rugi," katanya.
Sumber : BBC NEWS 

Assalamu’alaikum Wr.Wb
Apakah kalian tau ?  kalai sampai kini masih terus berulang, kejahatan kemanusiaan terhadape etnis muslim Rohingya. Dilansir dari Republika, lebih dari 2.600 rumah dibakar di wilayah yang dihuni oleh mayoritas Muslim Rohingya di Barat laut Myanmar pada pekan lalu.
.
Menurut badan pengungsi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), UNHCR, sekitar 58.600 warga Rohingya telah melarikan diri dari kekerasan yang terjadi di Myanmar ke Bangladesh.
.
Kami mengajak seluruh insan peduli masyarakat Indonesia untuk berdoa, bersimpati membantu meringankan beban saudara kita di Myanmar melalui :
.
Mandiri Syariah 700 546 3108
Atas nama Yayasan Semai Sinergi Umat/ Sinergi Foundation
.
Untuk Informasi lebih detail bisa langsung saja klik disini
.
#savemuslimrohingnya #SinergiFoundation#berbagibersinergi
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk pembantaian Muslim Rohingya di Myanmar. Bagaimanapun, hal itu tidak sesuai konstitusi. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menyatakan, MUI mengukut aksi pembantaian etnis Rohingya.
Cara itu tidak beradab dan bertentangan dengan konstitusi Indonesia yang menjunjung kemerdekaan sebagai hak segala bangsa dan harus dihapuskan dari dunia. Ini adalah penjajahan dan penindasan satu kelompok terhadap yang lain. 
"MUI mengutuk upaya yang mengarah pada penghapusan etnis ini. MUI dorong DK PBB dan organisasi Islam dunia untuk caru solusi yang bermartabat,'' ungkap Zainut di Kantor MUI, Selasa (22/11).
Bangsa Indonesia bisa mengambil hikmah dari sana. Indonesia punya tingkat toleransi tinggi terhadap aneka suku dan agama atau sesama bangsa. ''Kita sadari Indonesia mayor Muslim tapi jarang terjadi konflik seperti di Rohingya. Karena umat Islam di Indonesia sadar, perbedaan adalah sunatullah. Islam juga mengajarkan penghormatan dan toleransi kepada agama lain,'' kata Zainut.
Tentara Myanmar diduga melakukan pembunuhan, perkosaan dan penyiksaan kepada penduduk Rakhine. Kelompok-kelompok HAM pun meminta inversigasi secara independen dilakukan di daerah yang merupakan rumah bagi Muslim Rohingya tersebut.
Cerita pelecehan seksual dan pembakaran desa, sudah menjadi pembicaraan hangat di media sosial, tapi sulit melakukan verifikasi dengan pembatasan akses tentara.
sumber : republika.co.id

Komentar

Postingan Populer